Postingan

Teologi pluralisme dan Dialog Agama

    pengertian teologi pluralisme merupakan suatu paham yang menganggap bahwa kebenaran tidak hanya terdapat pada kelompok atau golongannya sendiri, melainkan juga ada pada kelompok lain, termasuk dalam komunitas agama. Dalam pluralisme dipercaya bahwa terdapat pemahaman tentang yang lain yang mana selalu ada dimensi kesamaan substansi nilai. Itu artinya, harus dipahami bahwa kebenaran dan keselamatan tidak lagi dimonopoli agama tertentu, tetapi sudah menjadi payung besar agama-agama. Teologi pluralisme, keberadaannya tentu sudah mengandaikan satu lompatan pemikiran teologis yang lebih terbuka dan moderat, dari sekadar teologi eksklusif. Patut dimaklumi, bahwa teologi selama ini, seperti sudah diseting dalam kerangka teologi eksklusif, yang menganggap bahwa kebenaran (truth) dan keselamatan (salvation) suatu agama, menjadi monopoli agama tertentu. Sementara pada agama lain, diberlakukan dan bahkan ditetapkan standar lain yang sama sekali berbeda: "salah dan karenanya tersesat ...

Teologi dan HAM

      Saat ini, Hak Asasi Manusia (HAM) memiliki kedudukan yang sangat dominan, seolah menjadi tolok ukur utama dalam menilai dan mengadili perilaku setiap individu di mana pun mereka berada. Meski demikian, definisi mendasar mengenai HAM masih menjadi perdebatan dan belum mencapai kesepakatan universal. Dalam konteks ini, pemikiran John Locke menawarkan perspektif yang relevan. Beliau berpendapat bahwa HAM merupakan hak kodrati yang dianugerahkan langsung oleh Tuhan kepada manusia. Poin krusial dari pandangan Locke adalah keyakinannya bahwa sumber utama dari hak-hak tersebut bersifat ilahi. Konsep tentang Tuhan dan kewajiban manusia tertuang dalam Pasal 1 UU No. 39 Tahun 1999 mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Aturan ini menegaskan bahwa HAM merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai anugerah suci, hak-hak tersebut wajib dijaga, dijunjung tinggi, dan dijamin perlindungannya oleh hukum, negara, peme...

Neo Kalam Dan Metodologi Baru

 Perkembangan ilmu kalam selalu berfluktuasi seiring waktu, tergantung pada cara para ilmuwan menganalisis ajarannya. Beberapa ilmuwan terdahulu menggunakan cara pandang yang statis dan fatalistis, menghasilkan pendekatan yang stagnan dan pasif. Padahal, perkembangan sosial masyarakat terus berkompetisi, sehingga dibutuhkan teologi yang aktual yang dapat menjawab tantangan zaman modern. Masyarakat dari berbagai kalangan memandang Islam dengan cara dan kepentingan yang beragam, sehingga wajah Islam menjadi beraneka ragam sesuai situasi dan kondisi. Terkadang, sebagian pemeluk agama melampaui batas prinsip-prinsip beragama, yang secara tidak langsung menjerumuskan mereka pada pandangan subjektif terhadap hal-hal di dunia, seperti materialisme yang menyebabkan manusia terasing dari penciptanya. Oleh karena itu, manusia harus memiliki prinsip dan ukuran yang jelas untuk menghindari kesesatan. Penting bagi kita untuk memahami metodologi pemikiran kalam kontemporer sebagai wujud dari per...

Rasyid Rida & modernisme islam

 Dimensi pemikiran Muhammad Rasyid Ridha dicirikan oleh pendekatan modernis dan kontekstualis terhadap isu-isu keagamaan, terutama dalam pembaharuan hukum Islam. Melalui karya utamanya, Tafsir al-Manar, Rasyid Ridha menekankan pentingnya umat Islam kembali kepada esensi hukum Islam dan memahami prinsip-prinsip syariat secara logis dan kontekstual sebelum mengaplikasikannya. Ia menolak fanatisme mazhab, mendorong toleransi, dan membuka pintu ijtihad selebar-lebarnya, dengan syarat ijtihad tersebut menjunjung tinggi al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Rasyid Ridha berfokus pada modernisasi hukum Islam dengan menegaskan supremasi al-Quran dan Sunnah, meyakini bahwa kemunduran umat Islam terjadi karena penyimpangan dari ajaran Islam yang sebenarnya. Maryam Jameelah mengidentifikasi empat poin utama dalam wacana modernisme Rasyid Ridha: Pemurnian ajaran Islam dari pengaruh menyimpang, khususnya sufisme dan tarekat yang sesat. Reformasi pendidikan tinggi Islam agar relevan dengan zama...

Jamaluddin Al-Afghani & Muhammad Abduh

  Jamaluddin Al-Afghani Jamaludin al-Afghani merupakan tokoh pembaharu yang menggunakan metode berpikir rasional. Sejak lahir, beliau diberikan gelar al-Sayyid karena keluarganya berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW . Dijelaskan dalam jurnal Pemikiran Jamaludin al-Afghani susunan Akmal Hawi, Jamaludin al-Afghani lahir di Asadabad pada tahun 1838 М. Beliau merupakan putra dari Sayyid Safdar al-Husainiyyah yang memiliki hubungan darah dengan perawi hadits terkenal asal Afghanistan, Sayyid Ali At-Turmudzi.Sejak kecil, Jamaludin al-Afghani dididik di lingkungan keluarga yang bermazhab Hanafi. Saat menempuh pendidikan formal, ia mempelajari ilmu aqli dan naqli. Selain itu, beliau juga mahir dalam bidang matematika dan sains.Sebagai tokoh pembaharu, pemikiran beliau berfokus pada nilai-nilai rasionalisme dan republikanisme. Agar lebih memahaminya, tulisan ini akan menjelskan secara lengkap tentang pemikiran Jamaludin al-Afghani. Jamaludin al-Afghani muncul pada abad ke-19, di mana um...

Modernitas , Rasionalitas & Sains

Modernitas Islam adalah sebuah agama, sementara modernitas dipahami sebagai serangkaian perubahan signifikan yang dialami masyarakat Barat ketika mereka beralih dari era kuno ke era yang sepenuhnya berbeda.Sejarah Islam dimulai dengan misi Nabi Muhammad SAW, dan konsep serta sistem pengetahuannya berkembang selama lima abad berikutnya. Pada abad kesembilan Masehi (abad ketiga Hijriah),beberapa tokoh Arab dan Islam menunjukkan sikap intelektual dan kreatif yang mencirikan modernitas.Namun, sejak abad keenam belas, umat Islam mulai menutup diri dari penemuan dan inovasi yang berkelanjutan, memilih untuk tetap terisolasi dari pemikiran baru. Hal ini menyebabkan pemisahan antara umat Islam dan modernitas. Sebagai konsekuensinya, bentuk Islam yang dipraktikkan saat ini didasarkan pada pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah oleh para pendahulu hingga abad kelima Hijriah.Masyarakat Barat memulai pembangunan modernitas pada abad ke-16 Masehi. Hal ini terjadi setelah para pemikir Barat berhasil men...

Pergeseran Paradigma Teologi Islam

urgensi menghadirkan konstruksi teologi Islam klasik yang transformatif dan membebaskan. Tujuan utama syariat Islam pada dasarnya adalah revolusi kemanusiaan dan ide-ide pembebasan, yang mencakup konsep-konsep kunci seperti keadilan (al-'adalah), egalitarianisme (al-musawamah), dan kebebasan (al-hurriyah). Dalam konteks teologi transformatif, ketiga ide ini memerlukan rekonstruksi atau redefinisi makna teologi.  Selama ini, teologi umumnya dipahami sebagai diskursus seputar Tuhan (teosentris). Namun, dalam kerangka paradigma transformatif, teologi tidak seharusnya lagi dipahami semata-mata sebagai wacana kalam klasik yang sangat teosentris, yang secara etimologi berasal dari kata theos (Tuhan) dan logos (ilmu/perkataan). Sebaliknya, teologi harus dimaknai dan dipahami sebagai ilmu kalam yang sesungguhnya, yaitu ilmu tentang perkataan. Tuhan dalam hal ini tercermin dalam kata logoi, sebab esensi Tuhan tidak tunduk pada ilmu (Hasan Hanafi, 1991:45). Gagasan mereformasi atau merekonst...