Modernitas , Rasionalitas & Sains

Modernitas

Islam adalah sebuah agama, sementara modernitas dipahami sebagai serangkaian perubahan signifikan yang dialami masyarakat Barat ketika mereka beralih dari era kuno ke era yang sepenuhnya berbeda.Sejarah Islam dimulai dengan misi Nabi Muhammad SAW, dan konsep serta sistem pengetahuannya berkembang selama lima abad berikutnya. Pada abad kesembilan Masehi (abad ketiga Hijriah),beberapa tokoh Arab dan Islam menunjukkan sikap intelektual dan kreatif yang mencirikan modernitas.Namun, sejak abad keenam belas, umat Islam mulai menutup diri dari penemuan dan inovasi yang berkelanjutan, memilih untuk tetap terisolasi dari pemikiran baru. Hal ini menyebabkan pemisahan antara umat Islam dan modernitas.

Sebagai konsekuensinya, bentuk Islam yang dipraktikkan saat ini didasarkan pada pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah oleh para pendahulu hingga abad kelima Hijriah.Masyarakat Barat memulai pembangunan modernitas pada abad ke-16 Masehi. Hal ini terjadi setelah para pemikir Barat berhasil meninjau kembali karya sastra dan seni dari era Romawi dan Yunani, sebuah periode sejarah yang sebelumnya dilarang untuk dipelajari dalam budaya dan pemikiran akibat paksaan teologi Katolik. 

Selain itu, peradaban Barat berhasil menciptakan sistem uniknya sendiri. Sistem ini menimbulkan tantangan signifikan bagi identitas Arab di berbagai tingkatan, memaksa masyarakat Arab untuk menghadapi dan merespons isu-isu kontemporer mereka Oleh karena itu, umat Muslim kontemporer telah berusaha menawarkan respons Islami terhadap tantangan yang muncul akibat ekspansi kolonial Eropa. Mereka menekankan keselarasan antara Islam dan modernitas, serta berupaya mendamaikan ajaran agama dengan nilai-nilai modern. Namun, beberapa intelektual agama berpendapat bahwa modernitas adalah ajakan untuk menghancurkan bahasa, merusak warisan budaya, dan menyerang agama serta nilai-nilai fundamental atas nama modernisasi dan pembaruan Oleh karena itu, persoalan hubungan antara Islam dan modernitas telah timbul sebagai isu intelektual rumit yang telah memicu diskusi dan perdebatan sengit di zaman modern, dan masih berlangsung hingga kini. tulisan ini bertujuan untuk menguraikan dua kelompok utama: satu kelompok menentang gagasan modernitas, menganggapnya sebagai ideologi kafir, asing, atau berasal dari Barat; sementara kelompok lainnya memilih pendekatan damai, meninggalkan definisi modernitas konvensional dan menelusuri akar modernitas serta demokrasi dalam catatan sejarah 


Modernitas dapat diartikan sebagai sikap terbuka dari setiap aspek kehidupan, baik pribadi maupun sosial, terhadap inovasi dan hasil dari perkembangan pesat ilmu pengetahuan serta teknologi. Keterbukaan ini, yang selalu berhubungan dengan hal-hal baru, membuat era modernitas sering disamakan dengan periode eksplorasi perintis. 

kesalahpahaman umum antara produk modernitas dengan konsep modernitas itu sendiri. Penulis mempertanyakan apa sebenarnya modernitas itu. Menurut Ibn Manzur dalam Lisan Al Arab, secara linguistik modernitas diartikan sebagai lawan dari sesuatu yang lama. Istilah ini merujuk pada hal-hal baru dan pendapat-pendapat terbarukan yang sebelumnya tidak dikenal.

Penggunaan istilah modernitas bisa bermakna positif, memuji keterbukaan pikiran dan kebebasan dari peniruan, atau bermakna negatif, menunjukkan kecerobohan dalam mengejar hal baru tanpa mempertimbangkan masa lalu. Terlepas dari konotasi tersebut, modernitas adalah istilah yang rumit dan kontroversial yang akan dijelaskan lebih lanjut melalui beberapa definisi.


Pandangan Abdullah Al-Aroui tentang Modernitas:

Secara fundamental, Abdullah Al-Aroui berpendapat bahwa gagasan modernitas berasal dari kemajuan yang terjadi di Eropa. Konsep ini berfokus pada beberapa pilar utama, yaitu kedaulatan individu, kemandirian, hak-hak asasi, dan kemampuan manusia untuk mengendalikan alam. Selanjutnya, komponen-komponen yang membentuk konsep pasca-modernitas mencakup individualisme, pemikiran rasional, kebebasan, sistem demokrasi, dan pendekatan ilmiah atau sekularisme dalam konteks sains modern.

Pandangan Muhammad Sabila tentang Modernitas:

Muhammad Sabila menjelaskan istilah modernitas sebagai struktur filosofis dan intelektual yang diwakili di dunia Barat melalui kebangkitan humanisme. Humanisme ini, dengan makna filosofisnya, menempatkan manusia pada posisi sentral dan sebagai rujukan fundamental di alam semesta. Selain itu, modernitas juga ditandai dengan munculnya pendekatan instrumental yang ketat dalam ranah pengetahuan dan kerja sama, di mana ilmu teknik modern dan humaniora modern berkembang berdasarkan kriteria rasional yang sangat ketat.

Menurut ulama Islam Abu Al-Ala Mawdudi (wafat 1979), yang juga pendiri Jamaat-e-Islami di Pakistan, era Jahiliyah modern ditandai dengan berbagai bentuk korupsi. Manifestasi korupsi tersebut mencakup fanatisme seksual, patriotisme yang ekstrem, nasionalisme yang bersifat diktator, kapitalisme, dan adanya konflik kelas di antara masyarakat. Selain itu, dalam tatanan masyarakat Jahiliyah, Mawdudi meyakini bahwa manusia dipaksa untuk tunduk pada ketuhanan sesama manusia, yang mengakibatkan terputusnya hubungan antarmanusia yang hakiki.Seorang pembaharu (Mujaddid) harus menjauhkan diri sepenuhnya dari periode ketidaktahuan (Jahiliyah) dan enggan menerima pengaruhnya dalam aspek Islam manapun, tidak peduli seberapa kecil. Seorang Mujaddid wajib merasa tenteram dengan prinsip-prinsip Islam, menjadi seorang Muslim yang tulus dalam cara pandang, pemahaman, dan emosi, serta cakap membedakan antara ajaran Islam dan Jahiliyah, bahkan dalam detail terkecil. 

Menurut Mawdudi, satu-satunya kerangka kerja yang efektif untuk mengatasi tantangan kehidupan manusia dan isu-isu praktis, melawan arus komunisme, sambil memberikan ketenangan jiwa yang absen dalam komunisme, adalah kerangka kerja yang dibangun semata-mata di atas landasan Islam.Siapa pun yang berpendapat bahwa Islam kurang dalam aspek modernitas tertentu, berkewajiban untuk menguraikan secara spesifik area mana yang dianggap tidak mampu dibimbing oleh Islam. 

Al-Mawdudi mengakui bahwa umat Islam telah memperoleh banyak keuntungan dari sisi positif ilmu pengetahuan Barat yang baru. Namun demikian, ia meyakini bahwa kerugian moral yang ditimbulkan jauh melampaui manfaat material atau intelektual yang didapat.

Rasionalitas

Pemikiran teologi modern menekankan pendekatan rasional, yang berarti tidak hanya mengandalkan Al-Quran dan As-Sunnah, tetapi juga menggunakan akal pikiran. Akal memungkinkan manusia untuk menyadari kewajiban bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kitab suci Al-Quran sendiri memerintahkan umatnya untuk berpikir dan melarang sifat taklid (mengikuti secara membabi buta), yang dianggap sebagai salah satu penyebab kemunduran Islam pada abad ke-19 dan ke-20. Banyak tokoh Islam mencoba menerapkan pemikiran rasional ini.

Teologi berkaitan dengan Tuhan dan interaksi-Nya dengan alam semesta, khususnya manusia. Perbedaan pandangan teologis antar aliran muncul karena beragamnya perspektif mengenai iman dan kekufuran, perbuatan Tuhan dan manusia, serta peran akal dan wahyu.

Tujuan teologi modern adalah agar umat Islam mampu bersaing dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer. Hubungan antara teologi modern dan sains modern sangat erat dan berkesinambungan. Abad modern, yang dimulai pada abad ke-19, ditandai oleh semangat zaman baru yang bercirikan tiga hal: individualistik, rasionalisme, dan kemajuan.

Menurut Aliran Qadariyah: Segala sesuatu di alam semesta telah ditetapkan ukuran atau kadarnya, yang mendorong adanya hubungan sebab-akibat. Intinya, wabah COVID-19 telah ditentukan oleh Allah sejak zaman dahulu. Umat Muslim wajib bertawakal kepada Allah dan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Menurut Aliran Jabariyah: Segala perbuatan manusia terikat pada kehendak Tuhan. Manusia tidak memiliki pilihan untuk menentukan mana yang baik atau buruk bagi dirinya, kecuali yang diizinkan oleh Allah. Manusia sepenuhnya menjalankan skenario Tuhan. Intinya, aliran Jabariyah berpendapat bahwa usaha manusia tidak dapat mengubah ketetapan Allah, sehingga manusia hanya bisa pasrah pada takdir yang diberikan

Peran Akal dan Wahyu:

Akal merupakan instrumen berpikir internal manusia yang mampu mengidentifikasi nilai baik-buruk serta menetapkan kewajiban moral melalui perenungan mendalam. Sebaliknya, wahyu dipandang sebagai informasi metafisika dari Tuhan yang berisi petunjuk dan tugas manusia kepada Pencipta. Dalam perspektif Mu'tazilah, peran wahyu cenderung sekunder karena akal dianggap sudah mampu menemukan kebenaran dasar secara mandiri.

Status Pelaku Dosa Besar:

Aliran-aliran teologi memiliki pandangan berbeda mengenai status keimanan seseorang yang berbuat dosa besar:

Khawarij: Menghukumi mereka sebagai kafir.

Murji'ah: Memilih untuk menunda keputusan hukum hingga hari kiamat, dengan argumen bahwa perbuatan tidak memengaruhi naik-turunnya kadar iman.

Mu'tazilah: Menempatkan mereka di posisi netral, yaitu al-manzilah baina al-manzilatain (berada di antara mukmin dan kafir).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Terbagi menjadi beberapa pandangan, termasuk kelompok Maturidiyah yang muncul sebagai antitesis atau penyeimbang terhadap pemikiran-pemikiran sebelumnya.

Sains

Sejarah teologi Islam sangat panjang dan dinamis. Sepanjang sejarah tersebut, teologi Islam telah memberikan kontribusi signifikan dalam kancah intelektual global, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun politik. Beragam konsep dan perspektif teologis muncul dan berkembang secara dialektis dalam budaya Islam.

Sains dan teknologi dianggap sebagai aspek modern di era kontemporer ini. Keduanya berkembang dengan sangat pesat dan memberikan dampak besar bagi kehidupan manusia. Para ahli dan ilmuwan terus melakukan penelitian mendalam terhadap sains dan teknologi, yang menghasilkan penemuan-penemuan canggih dan modern. Saat ini, sains dan teknologi menjadi simbol kemajuan; negara atau bangsa yang tidak mengikuti perkembangan ini dianggap terbelakang.

Oleh karena itu, kemajuan sains dan teknologi menawarkan banyak kemudahan dan kesejahteraan bagi manusia. Keduanya berfungsi sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan hidup sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di bumi. Allah telah menganugerahkan nikmat yang saling melengkapi kepada manusia: agama serta sains dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu adalah sumber ide dan penemuan rekayasa, sedangkan teknologi adalah penerapan praktis dari ilmu pengetahuan yang menghasilkan produk nyata, canggih, dan mendorong kemajuan manusia. Sebagai umat Islam, kita perlu menyadari bahwa landasan filosofis untuk mengembangkan ilmu dan teknologi dapat digali dari Al-Qur'an, karena kitab suci tersebut banyak memuat keterangan mengenai kedua bidang tersebut.

Dinamika pemikiran Islam di Indonesia saat ini masih diwarnai dikotomi atau perpecahan antara pendekatan Barat dan Timur Tengah, yang berpotensi memicu konflik tajam di kalangan pemikir Islam. Kelompok yang menimba ilmu di Barat sering kali mendapat kecaman keras dari kelompok Timur Tengah yang merasa lebih Islami dan berlandaskan ajaran Islam yang murni. Ketegangan ini menunjukkan masih rendahnya apresiasi terhadap keilmuan yang luas, di mana seharusnya perbedaan pandangan dijadikan sarana dinamisasi, bukan alat untuk saling mengafirkan.

Di sisi lain, perkembangan zaman setelah era Renaissance, revolusi sains, industri, hingga informasi telah mengubah pemahaman manusia tentang diri dan alam secara drastis. Perubahan pandangan ilmiah ini sering kali dianggap menegasikan atau bertentangan dengan teologi agama-agama dunia, sehingga agama mulai ditinggalkan. Namun, pandangan tersebut muncul jika hanya melihat di tataran permukaan. Sesungguhnya, teologi hanyalah konstruksi intelektual manusia dalam upaya memahami pesan-pesan religius.

mempertemukan teologi dan sains. Pertemuan ini dianggap dapat membuat kedua bidang tersebut berkembang secara dialektis dan saling melengkapi, sehingga mampu mengatasi tantangan kemanusiaan yang muncul akibat kemajuan sains.

Menurut Ian Barbour, terdapat empat cara hubungan antara sains dan agama: konflik, independensi, dialog, dan integrasi.

Konflik: Sains dan agama saling meniadakan eksistensi satu sama lain dan tidak memiliki titik temu.

Independensi: Masing-masing bidang mengakui keabsahan yang lain tetapi menyatakan tidak ada irisan di antara keduanya.

Dialog: Diakui adanya kesamaan yang memungkinkan diskusi dan dukungan timbal balik antara ilmuwan dan agamawan.

Integrasi: Menggabungkan agama dan sains melalui dua pendekatan:

Teologi natural: Teologi mencari dukungan dari penemuan ilmiah.

Teologi alam: Pandangan teologi tentang alam diubah dan disesuaikan berdasarkan penemuan sains terkini.

Sejak abad ke-18, beberapa modernis di dunia Islam mencoba merumuskan kembali Islam dengan pendekatan rasional-filosofis untuk menemukan kembali kejayaan masa lalu, dengan mencari hubungan organik antara Barat dan Islam. Upaya ini belum sepenuhnya berhasil karena adanya serangan internal dan tuduhan sebagai agen Barat sekuler. Namun, usaha ini terus berlanjut dan keberhasilannya diperkirakan hanya tinggal menunggu waktu.

Sebagaimana diketahui, peradaban Barat masih memiliki kelemahan spiritual dan paradigmatik. Fondasi filosofisnya kurang akan wawasan metafisik, yang mengakibatkan pandangan dunia tentang realitas menjadi bias dan artifisial. Oleh karena itu, pengetahuan yang diserap dari sumber manapun, terutama dari Barat, tidak boleh mencakup pandangan dunianya. Hal ini didasari keyakinan bahwa doktrin normatif Islam telah memberikan pandangan dunia yang lebih memuaskan. Perangkat berpikir kritis dan rasional tersebut dapat digunakan oleh umat Muslim sebagai alat bantu untuk mengembangkan pandangan hidup mereka, menata kehidupan duniawi dengan baik melalui pengembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan.

Meskipun fakta sejarah menunjukkan adanya pengaruh pemikiran Yunani dalam perkembangan awal pemikiran atau filsafat Islam, ini tidak berarti bahwa filsafat Islam berakar pada filsafat Yunani. Namun, kita harus mengakui kontribusi pemikiran Yunani yang telah menyediakan perangkat berpikir kritis-analitis dan rasional. Alat-alat ini membantu dalam menjelaskan nash-nash Al-Qur'an sebagai sumber utama inspirasi pemikiran Islam. Pemikiran Yunani berfungsi sebagai pendorong dan perangsang bagi sumber-sumber inspirasi tersebut.

Peristiwa penting dalam sejarah pembentukan tradisi filsafat Islam adalah pertemuan antara Islam dan filsafat Yunani di Baghdad pada masa Kekhalifahan Abbasiyah. Sejak saat itu, umat Muslim menjadi pemimpin peradaban dunia selama kurang lebih lima abad. Mereka mendalami berbagai disiplin ilmu seperti matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan kedokteran, yang sebelumnya berkembang dalam tradisi pemikiran Yunani. Perkembangan filsafat Islam secara umum, termasuk filsafat sains di kalangan umat Islam, berawal dari kegigihan kaum Muslim selama Masa Keemasan Sains dalam Islam (The Gold Age of Science in Islam), antara tahun 650 M hingga 1100 M. Periode ini ditandai dengan kemunculan tokoh seperti Jabir Ibn Hayyan (721-815 M) sebagai bapak alkemi modern.


SUMBER

Global Journal of Human-Social Science

Universitas Islam Jakarta

Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, him. 99-121; (3) Nurcholish Madjid, Khazanah intelektual islam, Bulan Bintag, jakarta, 1984, him. 137-154, dan 307-344.

lan G. Barbour. Menemukan Tuhandalam SainsKontemporerdan Agama. (Bandung: Mizan Media Utama. 2005. him. 10-11

SyamsulAritin. Spiritualisasi Islam dan PeradabanMasaDepan, (Yogyakarta: Sipress, 1996), hlm. 103-114

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teologi Islam Klasik dan Problem Modernitas

Rasyid Rida & modernisme islam

Pergeseran Paradigma Teologi Islam